8 Nov 2012
Siapapun tahu bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh generasi penerus. Tetapi generasi penerus bangsa ini berangkat sekolah dengan menantang maut. Murid-murid SD di Padang, Sumatera Utara berangkat sekolah sambil mempertaruhkan nyawanya, dan menjadi sotoran dunia.
Para petinggi negeri ini boleh bekoar-bekoar dengan bangganya menyatakan bahwa pembangunan Indonesia sangat pesat, kenyataan potret bangsa di mata bangsa lain adalah bangsa yang mengabaikan rakyatnya. Itu tergambar dalam foto-foto yang disiarkan media terbesar di Eropa, dailymail edisi Rabu (7 November 2012).
Dailymail menulis, "Jika Anda berpikir bahwa anak-anak ke sekolah adalah tugas. Tatapi orang tua dari anak-anak ini harus berpikir bahwa anak-anaknya harus menjaga kesimbangannya pada kawat setinggi 30 meter di atas sungai yang mengalir agar tidak terlambat masuk kelas."
Murid sekolah yang tinggal di desa Batu Busuk di Sumatera Barat ini, selain meniti sebatang kawat di atas sungai, juga harus berjalan sejauh tujuh mil melalui hutan lebat menuju sekolahnya di ke di kota Padang.
Mereka harus menyeberangi sungai lokal seperti pemberani sejak jembatan gantung runtuh dalam hujan lebat lebih dari dua tahun yang lalu.
Seorang fotografer Igoy Fitra Yogi, 31, menggambarkan bagaimana anak-anak berani menghadapi cedera dan kemungkinan kematian karena tenggelam sehingga mereka bisa sampai ke sekolah.
Dia berkata: "Anak-anak ini harus berjuang untuk mengejar kawat baja menyeberangi sungai untuk sampai ke sekolah.
"Mereka menjaga keseimbangan mereka dengan perlahan berjalan di kawat. Sementara beberapa anak yang takut jatuh, terpaksa seragamnya mereka basah saat menyeberangi sungai.
"Kalau sedang musim hujan, banyak anak-anak memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah karena takut hanyut.
"Kadang-kadang banyak orang tua menemani anak-anak mereka di atas kawat, sehingga mereka yakin mereka lebih aman."
Orang-orang dipaksa untuk menyeberangi sungai dengan cara ini karena kurangnya akses jalan ke desa.
Pada bulan Juli, banjir bandang melanda Sumatera Barat, menewaskan delapan orang dan menyebabkan lebih dari 250 orang kehilangan rumah. Daerah yang dilanda bencana itu termasuk Batu Busuk dan Padang.
Foto-foto anak berangkat sekolah menantang maut bukan kali ini saja menghebohkan dunia. Beberapa waktu lalu, foto-foto anak sekolah di Banten yang dijuluki sebagai Indiana Jones menyeberangi jembatan. Juga kisal anak-anak di Jawa Barat. Tentu akan menyesul yang lainnya.

Murid Sekolah rendah dari Desa batu Busuk, Sumatera Barat berangkat sekolah dengan manantang maut
Siapapun tahu bahawa masa depan bangsa ditentukan oleh generasi penerus. Tetapi generasi penerus bangsa ini berangkat sekolah dengan menantang maut. Murid-murid SD di Padang, Sumatera Barat berangkat sekolah sambil mempertaruhkan nyawanya, dan menjadi sorotan dunia.

Murid SD dari Desa Batu Busuk meniti seutas kawat dengan ketinggian 30 meter untuk boleh sampai ke sekolahnya
Para petinggi negeri ini boleh bekoar-bekoar dengan bangganya menyatakan bahawa pembangunan Indonesia sangat pesat, kenyataan potret bangsa di mata bangsa lain adalah bangsa yang mengabaikan rakyatnya. Itu tergambar dalam foto-foto yang disiarkan media terbesar di Eropah, dailymail edisi Rabu (7 November 2012).

Murid SD dari Desa Batu Busuk hati-hati meniti kawat untuk menyeberangi sungai agar tidak terjatuh
Dailymail menulis, "Jika anda berfikir bahawa anak-anak ke sekolah adalah tugas. Tetapi orang tua dari anak-anak ini harus berfikir bahawa anak-anaknya harus menjaga kesimbangannya pada kawat setinggi 30 meter di atas sungai yang mengalir agar tidak terlambat masuk kelas."

Murid SD dari Desa Batu Busuk, Sumatera Barat kelelahan dan berusaha beristirahat di titian kawat
Murid sekolah yang tinggal di desa Batu Busuk di Sumatera Barat ini, selain meniti sebatang kawat di atas sungai, juga harus berjalan sejauh tujuh batu melalui hutan tebal menuju sekolahnya di kota Padang.

Murid perempuan juga berjuang meniti seutas kawat untuk boleh menyeberang sungai menuju sekolah dari Desa Batu Busuk, Sumatera Barat
Mereka harus menyeberangi sungai lokal seperti pemberani sejak jambatan gantung runtuh dalam hujan lebat lebih dari dua tahun yang lalu.

Mereka yang tidak berani menyerang sendirian terpaksa beramai-ramai walaupun dengan resiko kawat akan putus kerana beratnya beban. Itu merupakan pemandangan sehari-hari di jalan penghubung Desa Batu Busuk, Sumatera Barat
Seorang fotografer Igoy Fitra Yogi, 31, menggambarkan bagaimana anak-anak berani menghadapi cedera dan kemungkinan kematian kerana tenggelam sehingga mereka boleh sampai ke sekolah.
Dia berkata: "Anak-anak ini harus berjuang untuk mengejar kawat besi menyeberangi sungai untuk sampai ke sekolah.
"Mereka menjaga keseimbangan mereka dengan perlahan berjalan di kawat. Sementara beberapa anak yang takut jatuh, terpaksa seragamnya mereka basah saat menyeberangi sungai.

Mereka yang tidak berani meniti kawat harus menyeberang melalui dalam sungai dengan risiko pakaian seragam basah. Itulah perjuangan murid Sekolah dari Desa batu Busuk, Sumatera Barat untuk memenuhi kewajibannya sebagai generasi penerus bangsa
"Kalau sedang musim hujan, banyak anak-anak memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah kerana takut hanyut. Kadang-kadang banyak orang tua menemani anak-anak mereka di atas kawat, sehingga mereka yakin mereka lebih selamat." Orang-orang dipaksa untuk menyeberangi sungai dengan cara ini kerana kurangnya akses jalan ke desa.

Orang tua yang anaknya masih terlalu kecil untuk meniti kawat dan takut menyeberang sungai, terpaksa menggendong anaknya untuk boleh sampai ke sekolahnya dari Desa batu Busuk, Sumatera Barat
Pada bulan Julai, banjir bandang melanda Sumatera Barat, membunuh delapan orang dan menyebabkan lebih dari 250 orang kehilangan rumah. Daerah yang dilanda bencana itu termasuk Batu Busuk dan Padang.

Meniti kawat dan menyeberangi sungai sama bahayanya, bila tiba-tiba datang banjir maka pasti akan terseret. Tapi tugas mereka harus tetap berangkat ke sekolah demi masa depan bangsa ini. Itulah perjuangan anak-anak sekolah dari Desa Batu Busuk, Sumatera Barat.
Foto-foto anak berangkat sekolah menantang maut bukan kali ini saja menghebohkan dunia. Beberapa waktu lalu, foto-foto anak sekolah di Banten yang digelar sebagai Indiana Jones menyeberangi jambatan. Juga kisah anak-anak di Jawa Barat. Tentu akan menyusul yang lainnya.
kredit berita-beritadotcom