Tampilkan postingan dengan label oleh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oleh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2014

Masjid Nando Ini Didirikan Oleh Makhluk Ghaib


Dibangunkan sekitar abad ke-12 masihi, Masjid Nando yang terletak di Kampung Nando, Mali, Afrika Barat, hingga kini masih menjadi misteri terutamanya dari segi struktur dan reka bentuk bangunannya.
Kewujudan Masjid Nando adalah tinjauan dari pengaruh Islam ke Afrika Barat yang mula tersebar pada abad IX Masehi. Pada waktu itu, Islam dibawa oleh para pedagang Muslim dari suku Tuareg dan Berber. Kedua-dua suku ini merupakan suku nomad yang suka mengembara di gurun sahara selatan dan utara.
Bangunan Masjid Nando dikategorikan unik, tidak ada marmar atau kubah sebagaimana masjid-masjid lain secara umumnya. Seluruh bangunan hanya dilapisi lumpur, termasuk lantai dalam masjid.
Bahkan bahagian tepi lantai, tetap dibiarkan lebih tinggi dari bangunan yang lain dan menyerupai pinggiran benteng dengan rekabentuk lama. Meski demikian, pada setiap sisi dalam bangunan masjid dihiasi dengan tulisan
kaligrafi yang juga dibuat dari lumpur.
Menurut mitos masyarakat setempat, Masjid Nando tidak dibangunkan oleh manusia, akan tetapi oleh makhluk halus yang berbadan besar. Keyakinan ini diperkuat jika anda melihat struktur bangunan, bahan yang digunakan
untuk membina masjid , serta adanya bekas tapak kaki besar pada salah satu sisi masjid.

Sumber - 2DayBlogger
Selengkapnya

Minggu, 17 November 2013

Uang Rakyat Untuk Rakyat Oleh Padli



Banyaknya investasi dan perusahaan di Provinnsi Riau ternyata tidak memberikan dampak yang signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan sebagian mereka, menjadi contoh betapa rakyat sekitar perusahaan-perusahaan masih berada dalam kemiskinan. Padahal kekayaan sumber daya alamnya (SDA) terus dikuras habis-habisan. Namun rakyat lebih banyak diam, karena bingung tak tahu harus berbuat apa. Meskipun mereka memiliki wakil di DPR, suara mereka tak pernah terwakili. Rakyat  sering tak mampu menyampaikan keresahannya kepada para pejabat. Mereka lebih  banyak bersabar dan sering menyaksikan kemewahan hidup orang yang mengambil kekayaan di wilayahnya. Mereka hanya lebih banyak bersikap sabar. Namun, jika kesabaran mulai habis, maka yang muncul adalah kejengkelan yang hal ini mudah menyulut  gejolak sosial. Ya, gimana lagi tempat “cari makan” sudah tidak ada. Padahal yang dieksploitasi adalah tanah mereka. Realita ini sangat kontras dengan isi pasal 33 UUD 1945, yang berbunyi, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat”. Pasal itu seolah telah diganti, bahwa kekayaan alam yang ada di negeri Indonesia ini dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran pemilik modal, investor asing,  atau “tikus-tikus gendut” yang sudah keterlaluan mengkhianati rakyat. Inilah ironi bangsa kita, mereka menderita kelaparan di lumbung padi. Kita adalah negara kaya raya, tetapi menjadi miskin karena keserakahan “penghianat bangsa” kita sendiri. Khususnya di Riau jumlah investasi di Riau terus mengalami peningkatan, APBD tahun anggaran 2013 pun bertambah, namun persoalan kesejahteraan rakyat masih menjadi kendala. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Mawardi Arsyad, Juma’t (4/1) mendata, Angka kemiskinan di Riau semenjak tahun 2012 lalu terjadi kenaikan sekitar 8,05% atau 481,31 ribu jiwa. Ironi memang, saat pemerintah menganggarkan 7,5 Miliar untuk pembangunan tugu PON, sementara kemiskinan semakin meningkat, harusnya pemerintah Provinsi harus prioritaskan kesejateraan rakyat daripada bentuk “pencitraan” semata. Yang lebih sangat disayangkan ketika ada yang berani menyampaikan “kebobrokan” pemimpin negeri ini mereka dikriminalisasikan oleh oknum aparat yang tidak senang ketika “kawan” mereka diganggu seperti 4 mahasiswa yang ditangkap baru-baru ini. kedepan, pemerintah yang menjadi eksekutor pendistribusian uang rakyat harus memprioriitakan proyek dan program yang bertujuan menyejahterakan rakyat. jangan sampai pemimpin Riau ini berperilaku seperti “penjajah” uang rakyat yang dipungut sebagai retribusi pajak tapi dihabiskan untuk kepentingan pribbadi, golongan dan proyek tidak berguna.
Selengkapnya